Minggu, 29 April 2012

SEKTOR UNGGULAN PERKEBUNAN KARET
Perkebunan Karet di Jambi mempuyai luas sekitar 588.043 Ha, dengan hasil karet 312.925 ton, Hasil olahan perkebunan karet pada umumnya diolah menjadi bokar ( bahan olahan karet rakyat) untuk kemudian dijual ke pabrik crumb disekitar kota Jambi.
Produk karet adalah penyumbang devisa terbesar di Jambi menggeser produk kayu lapis dan kayu olahan.
Data realisasi ekspor komoditi migas dan non migas Jambi yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi, ekspor non migas Jambi terbesar produk karet mencapai 127,684 ton dengan nilai 432,052 juta dolar Amerika Serikat. Sementara realisasi ekspor kayu lapis 187,313 ton dengan nilai 178.945 dolar AS.
Provinsi Jambi kembali menjadikan karet sebagai komoditi primadona ekspor setelah produk ekspor kayu lapis dan kayu olahan kian terpuruk akibat keterbatasan bahan baku.
Sementara itu untuk meningkatkan ekspor karet selain perluasan areal tanaman juga meremajakan perkebunan karet rakyat.
Dinas Perkebunan Jambi meremajakan karet rakyat seluas 17.000 ha dan hingga 2010 ditargetkan peremajaan 130.000 ha.
Dibawah ini ada data beberapa pabrik pengolah karet yang ada di provinsi Jambi :

Jembatan Muara Sabak Rampung, Mansyur Bingung


Jembatan Muara Sabak. (TASMAN)Jembatan Muara Sabak. (TASMAN)MUARASABAK – Pembangunan Jembatan Muara Sabak senilai 250 miliyar, dikabarkan akan rampung Juli 2012 mendatang. Kabar ini membuat para sopir perahu tambang di Sungai Muara Sabak, Tanjung Jabung Timur, bingung.
Adalah Masyur, sopir perahu tambang ini mengaku khawatir pendapatannya akan berkurang jika jembatan Muara Sabak telah beroperasi.
“Kami sekarang, masih bingung akan berusaha apa setelah jembatan Muara Sabak beroperasi nanti,” tutur warga Rt 02 Sabak Ulu dan bapak dua orang anak itu.
Menurut Mansyur, para sopir perahu tambang mendapat informasi jika jembatan sepanjang 750 meter itu diprogramkan rampung pada Juli 2012 mendatang.
“Informasi yang kami dengar, betul demikian,” katanya.
Mansyur menjelaskan, jika proyek jembatan Muara Sabak rampung serta difungsikan, orang tidak akan menggunakan jasa penyeberangan pakai perahu lagi nantinya. Itu artinya, sekitar 30 orang sopir perahu tambang akan kehilangan pekerjaan alias nganggur.
Saat ini, lanjut Mansyur, Ia dan kawan kawan per harinya rata-rata bisa memperoleh pemasukan Rp 150 hingga Rp 200 ribu dari jasa menyeberangkan orang dan sepeda motor.  (infojambi.com/TAS)